Bojonegoro – Gerakan Lestari Alam Raya (GELAR) #10 kembali berlanjut. Setelah aksi berbagi eco-takjil, rangkaian Eco Ramadhan di Bojonegoro dilanjutkan dengan penanaman pohon konservasi dan penyaluran zakat kepada warga dhuafa di Dusun Bajulan, Desa Deling, Kecamatan Sekar, Senin (16/3/26).

Kegiatan yang digelar di kawasan hulu Sungai Gandong tersebut melibatkan kolaborasi berbagai organisasi masyarakat, lembaga sosial, akademisi, hingga instansi pemerintah. Sedikitnya puluhan lembaga ambil bagian dalam aksi lingkungan tersebut, di antaranya IDFoS Indonesia, LAKPESDAM NU Bojonegoro, LAZ Nurul Hayat, ALAS Institute, LAZISNU Bojonegoro, ADEMOS Indonesia, PC PMII Bojonegoro, Giri Foundation, Perhutani, serta PT Asri Dharma Sejahtera (BUMD Bojonegoro).

Dusun Bajulan dipilih sebagai lokasi kegiatan karena berada di wilayah hulu yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem Kabupaten Bojonegoro. Dalam aksi tersebut, warga menerima bibit tanaman konservasi seperti pohon gayam dan alpukat dengan skema pembagian tiga bibit untuk setiap rumah.

Selain penanaman pohon, panitia juga menyalurkan zakat Ramadan kepada warga dhuafa setempat sebagai bentuk kepedulian sosial yang dikolaborasikan dengan gerakan pelestarian lingkungan.

Perwakilan panitia dari IDFoS Indonesia Laily Mubarokah mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan beberapa momentum lingkungan, di antaranya Hari Bakti Rimbawan, Hari Air Sedunia, serta Hari Bumi.

“Kami berharap enam tahun ke depan kawasan ini bisa kembali dikunjungi untuk memanen manfaat dari pohon alpukat yang ditanam hari ini. Yang lebih penting, setiap rumah memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan melalui konservasi,” ujarnya.

Sementara itu, Kasi Tata Kelola dan Usaha Kehutanan pada Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Bojonegoro Rizky Firmansyah menekankan pentingnya perawatan pohon yang telah dibagikan kepada warga.
Menurutnya, keberadaan vegetasi di wilayah hulu sangat menentukan kondisi lingkungan di wilayah hilir.

“Pohon yang disedekahkan ini mohon ditanam dan dirawat di pekarangan masing-masing. Jika kawasan hulu rusak, maka banjir akan berdampak pada saudara kita di wilayah hilir. Karena itu mari kita kembalikan kawasan hulu Bojonegoro dengan tanaman konservasi,” katanya.

Pesan serupa juga disampaikan Kepala Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan pada Dinas Lingkungan Hidup Bojonegoro Tuti Prangmiatun. Ia menilai bulan Ramadan menjadi momentum tepat untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian alam melalui konsep sedekah pohon.

“Setiap pohon yang ditanam dan dirawat akan menjadi sumber amal kebaikan. Terutama bagi warga Dusun Bajulan yang hari ini menjadi bagian dari gerakan konservasi,” ujarnya.

Ia menutup sambutannya dengan pesan reflektif kepada masyarakat, “Jangan tinggalkan air mata, tapi tinggalkanlah mata air.”

Melalui gerakan Eco Ramadhan ini, Dusun Bajulan diharapkan dapat berkembang menjadi kampung konservasi berbasis masyarakat. Program tersebut memadukan nilai sosial, keagamaan, serta kepedulian lingkungan demi menjaga keberlanjutan alam bagi generasi mendatang. (RBU/Red).

Leave a Reply